SEMARANG, Suara keadilannews.id — Pagi itu, suasana Pengadilan Negeri Semarang tampak biasa saja. Namun di tengah keramaian, hadir seorang lelaki tua dengan langkah tertatih. Rambutnya memutih, batik lusuh melekat di tubuh, dan selembar surat pengaduan digenggam erat seolah menjadi satu-satunya harapan hidup.
Dialah Sastro Wijoyo, 74 tahun, seorang pensiunan sederhana. Ia datang bukan untuk memperjuangkan harta atau warisan, melainkan sesuatu yang jauh lebih rapuh: kerinduan pada anaknya.
Gugatan yang Membuat Ruang Sidang Terdiam
“Bapak Sastro Wijoyo?” panggil petugas.
Dengan suara lirih, ia menjawab bahwa dirinya menggugat anak kandungnya sendiri, Arya Satria Wijoyo. Ruangan mendadak hening. Gugatan orang tua terhadap anak jarang terjadi, apalagi dengan tuntutan yang begitu sederhana.
“Saya hanya minta nafkah lima puluh ribu rupiah sebulan. Diserahkan langsung oleh dia. Itu saja,” ucap Pak Sastro.
Nominal yang kecil itu membuat hakim dan pengunjung sidang terdiam. Bukan karena jumlahnya, melainkan karena makna di balik permintaan tersebut.
Nafkah yang Bukan Tentang Uang
Ketika Arya hadir di sidang berikutnya, ia bingung. “Pak Hakim, Bapak tidak kekurangan. Beliau punya rumah, sawah, kios. Kenapa minta uang?”
Pak Sastro menunduk, lalu berkata dengan suara bergetar:
“Saya tidak butuh uangnya, Pak Hakim. Saya hanya ingin anak saya datang. Walau sebulan sekali, walau cuma lima menit. Uang itu hanya alasan, supaya ia punya waktu untuk menemui saya.”
Air mata pun jatuh. Ruang sidang dipenuhi keheningan yang sarat rasa haru.
Putusan yang Menyentuh Hati
Majelis hakim akhirnya memutuskan: Arya wajib memberikan nafkah Rp50.000 setiap bulan, diserahkan langsung kepada ayahnya. Namun lebih dari sekadar putusan hukum, momen itu membuka luka keluarga yang lama terpendam.
Arya berlutut, memeluk kaki ayahnya. “Maafkan saya, Pak…”
Pak Sastro membelai kepala anaknya, tersenyum di balik air mata.
“Kamu tidak salah, Le… Bapak cuma kangen.”
Pelajaran dari Ruang Sidang
Ketua Majelis berbisik pada rekannya:
“Semoga anak-anak kita tidak perlu ada putusan pengadilan, untuk ingat pada orang tuanya.”
Kisah ini menjadi pengingat: kadang yang paling berharga bukan uang, melainkan waktu. Dan yang paling menyakitkan bukan kemiskinan, melainkan dilupakan oleh orang yang kita cintai.
Pesan Sunyi dari Pak Sastro:
Bahwa di balik gugatan hukum, ada hati seorang ayah yang hanya merindukan pelukan, perhatian, dan kehadiran anaknya. (Hr)












