Bojonegoro – ;Proyek pembangunan jembatan di Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, berubah menjadi sumber penderitaan warga. Tidak ada papan nama proyek, tidak ada jalan darurat. Alhasil, aktivitas masyarakat lumpuh, anak-anak sekolah terlambat, orang tua kesulitan berbelanja, pekerja pun kehilangan waktu karena harus memutar sejauh setengah kilometer.
Pemandangan di lokasi benar-benar memprihatinkan. Jalan utama dibelah galian besar tanpa pengalihan arus yang layak. Sementara akses warga ditutup rapat. “Ini bukan pembangunan yang membahagiakan, tapi menyengsarakan. Kami harus memutar jauh setiap hari. Anak-anak sekolah jadi korban. Ungkap seorang warga dengan nada kesal.
Ketiadaan papan informasi proyek menambah tanda tanya besar. Publik berhak tahu siapa pelaksana, berapa anggaran yang dipakai, dan berapa lama pembangunan akan berlangsung. Tanpa itu semua, proyek ini layaknya siluman, hadir di tengah pemukiman tanpa wajah yang jelas.
Tak hanya soal transparansi, proyek ini juga memperlihatkan kelalaian serius dalam perencanaan. Jalan darurat semestinya disiapkan untuk memastikan mobilitas masyarakat tetap berjalan. Mengabaikan hal ini sama saja menutup mata pencaharian warga terhadap dampak sosial yang timbul.
Ini jelas melanggar prinsip dasar pembangunan. Infrastruktur bukan sekadar membangun fisik, tapi juga menjaga aksesibilitas warga. Kalau dibiarkan, akan jadi preseden buruk.untuk kebijakan publik di Bojonegoro.
Hingga kini, kontraktor maupun instansi terkait belum ada jawaban. Sementara warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan, menuntut keterbukaan, serta memastikan proyek dilanjutkan dengan memperhatikan kepentingan masyarakat.



